“Mungkin anak badak yang lahir itu, karena bapak dan ibu badak nggak punya banyak kerjaan. Nggak bisa kemana-mana, jadi di situ-situ saja. Mereka cuma diam saja, makanan sudah datang. Nggak kayak dulu, musti cari-cari dulu. Karena nggak banyak yang dikerjain, jadinya mereka bikin anak, deh”
Penyeberangan Pelabuhan Merak, padat seperti biasa. Kali ini, Nita dan Dedi memutuskan tidak menyeberang melalui jembatan lintas Selat Sunda. Mereka ambil jalur klasik, menyeberang dari Jawa ke Sumatera, dengan menaiki kapal feri melalui laut.
Dulu, mereka pernah melintasi jembatan tersebut. Pada dasarnya jembatan
penghubung dari Jawa ke Sumatera itu memang indah. Kalau sore kita bisa melihat
matahari tenggelam, sambil berdiri di batas pagar besi jembatan. Lintasan mobil
empat jalur membelah tengah jembatan. Di ujung-ujungnya ada pos penjaga.
Petugas di pos itu memeriksa tiap kendaraan yang lewat. Bentuknya sekilas mirip
dengan jembatan di San Fransisco, dalam film Godzilla. Dengan tali-tali kawat besar, saling melintang dari sisi
yang satu ke sisi lainnya.
Kali ini, karena hari khusus peringatan pernikahan, Nita dan Dedi memilih
menyalin kembali romantisme saat berpacaran dulu. Saat jembatan penghubung itu
belum ada. Saat menikmati senja dari geladak kapal feri, yang merupakan
satu-satunya pilihan kalau mau melintas Selat Sunda.
“Jumlah anak-anak yang suka berenang di pinggir kapal makin hari malah
kelihatan makin banyak. Seru sebenarnya melihat mereka berebut koin yang
dilemparkan penumpang. Tapi jadi ngenes,
karena berarti tak banyak perubahan yang bisa dilakukan negara ini,” kata Dedi
mencermati kerumunan anak-anak yang sedang berenang di pinggir kapal.
“Iya ya, kalau aku pikir sih,
selama orang tak saling membantu, maka tak ada yang berubah dari situasi itu,”
balas Nita.
Dedi membuka kacamata hitamnya. Kemudian mengeluarkan koin dari saku
celana. Dilempar-lemparkan koin itu di udara, kemudian ditangkap lagi dengan
tangan.
“Ahh..seharusnya tak perlu
dibantu. Makanya aku tidak akan melempar koin pada mereka. Sebab tak akan
mungkin ada mereka, kalau tak ada yang melemparkan koin. Jadi kalau tak ada
yang melempar koin, mereka juga tak akan ada lagi,” katanya, sambil tetap
melempar-lempar koin itu di telapak tangan, mengejek mata-mata kecil yang
berharap di bawahnya.
“Setidaknya kau jangan mengejek mereka, bila tak mau membantu,” kata Nita
lagi.
Nita lalu melemparkan koin yang ada di dompet kecilnya. Kerumunan anak-anak
yang sedang berenang, sontak segera berserabutan masuk ke dalam air. Mereka mengejar
koin-koin yang dilemparkan Nita. Koin yang mulai tenggelam ke dalam laut. Tak
berapa lama, beberapa anak kemudian timbul lagi ke permukaan dengan muka riang.
Mereka mengacungkan koin yang berhasil mereka tangkap.
“Rasanya, ada kenikmatan di dada ini tiap kali bisa membantu mewujudkan apa
yang diharapkan orang,” kata Nita, sambil tersenyum.
“Jadi kau melakukan itu untuk kenikmatan pribadi? Bukan karena ingin
menolong?” suara Dedi kembali keluar.
“Kamu terlalu lama sekolah di luar negeri. Jadi lupa sama adat di sini.
Masalah bantu-membantu sih, jelas
semua orang di sini suka melakukan itu,” balas Nita lagi. Kali ini dia bicara
sambil ngeluyur pergi.
Dedi mengikuti arah pergi Nita. Mukanya masih menunjukkan rasa penasaran.
Tapi, sinyal kapal kemudian berbunyi dua kali. Itu tanda kapal sudah merapat ke
pelabuhan. Mereka segera memutuskan kembali ke mobil.
Daratan Sumatera kini di depan mata, seperti berbarengan dengan matahari
yang seolah beranjak tenggelam di laut. Sebelum semua menghilang dalam
kegelapan, ban mobil akhirnya menginjak pelabuhan Bakauheni di Lampung.
Usai makan malam, mereka melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Way
Kambas. Daerah konservasi itu memang tujuan mereka. Setelah sekitar delapan
tahun lamanya, pernah menjadi saksi acara pacaran mereka dulu. Saat Nita dan
Dedi, sama-sama menjadi mahasiswa yang suka jalan-jalan.
“Aku nggak bisa ngebayangin, gimana hidup badak-badak itu sekarang. Apalagi daerah itu katanya
dipagari dengan kawat listrik sekarang,” suara Nita pelan memecah suasana bosan
dalam perjalanan.
“Lihat saja nanti. Yang pasti itu katanya cara yang paling tepat buat
menjaga badak biar nggak punah,”
sahut Dedi.
“Aneh juga pikiran orang-orang pintar zaman sekarang. Kadang lupa sama
keinginan dasar hidup,” lanjut Nita
“Aneh gimana? Jelas-jelas mereka
kalau bikin apa-apa pasti pakai perhitungan mendalam. Pasti sudah
dihitung-hitung baik dan buruknya, tidak sembarangan,” ujar Dedi.
“Tapi, mana ada makhluk hidup yang mau dikandangin?
Pasti mereka maunya bebas.”
“Yah, daripada dibunuh pemburu.
Diambil culanya, dijadiin obat kuat.”
“Memang kalau sudah di dalam kandang, pemburu itu nggak bisa dapet culanya?
Dunia makin canggih, yang namanya orang jahat tidak bakal hilang dari muka
bumi”.
“Namanya pesimistis dong, kalau
begitu. Tapi, kelihatannya badak-badak itu memang bisa lebih berkembang kok, kalau dikandangin seperti sekarang. Buktinya, anak-anak badak makin
banyak lahir.”
“Mungkin anak badak yang lahir itu, karena bapak dan ibu badak nggak punya banyak kerjaan. Nggak bisa
kemana-mana, jadi di situ-situ saja. Mereka Cuma diam saja, makanan sudah
datang. Nggak kayak dulu, musti
cari-cari dulu. Karena nggak banyak
yang dikerjain, jadinya mereka bikin anak, deh,”
ujar Nita menganalisis, terkesan sok tahu.
“Memangnya badak itu kamu. Didatengin
bukannya menolak, malah nyamperin.
Badak betina tuh, paling susah
dikawinin. Kata peneliti badak, kalau mereka mau bikin anak, harus berantem
dulu. Kalau badak betina kalah, baru mau dikawinin,”
urai Dedi.
Sebelum pembicaraan berlanjut, pintu gerbang Way Kambas sudah menyambut. Masih
sama dengan delapan tahun lalu, daerah itu masih sunyi sepi. Sedikit yang berbeda
hanyalah di daerah lokasi stan berjualan. Sekarang, tampak semakin banyak
toko-toko. Sayang, toko-toko itu sudah tutup sehingga Dedi dan Nita langsung
menuju lobi utama penerima tamu.
Lobi itu terlalu luas untuk mereka berdua. Foto-foto penuh menghiasi
dinding kayu. Pada bagian tembok yang dekat langit-langit, ada beberapa cula
badak yang dipamerkan. Sementara langit-langit, mengikuti lekuk rangka bawah
atap, membuat tinggi ruangan menjadi maksimal.
Di ujung ruang, ada meja panjang tinggi, khas milik resepsionis hotel.
Setelah puas melihat-lihat foto dan ruangan, Dedi dan Nita menghampiri meja
besar. Tak ada siapa pun di situ. Dinding bagian belakang meja resepsionis, juga
berbalut kayu. Di ujungnya ada lorong menuju kamar di belakang. Setelah
memanggil-manggil sebentar, seorang lelaki muda keluar dari kamar. Tangan
lelaki muda itu masih mengangkat telepon genggam dekat telinganya. Tampaknya,
ia sedang terlibat dalam pembicaraan serius.
“Iya Pak, nanti akan diselesaikan secepatnya. Mungkin Mang Tardi tadi
sedang istirahat, jadi tidak bisa angkat telepon. Nanti saya hubungi Mang
Tardi. Baik Pak, saya tutup dulu teleponnya, ada tamu datang,” obrolan lelaki
muda itu sempat terdengar di telinga Dedi dan Nita.
Setelah menutup telepon, lelaki muda itu mendekati Dedi.
“Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?” sapaan khas pegawai pemerintahan.
“Saya sudah reservasi untuk menginap dua malam di sini. Apa bisa dicek?”
suara Dedi meninggi.
“Coba saya lihat dulu. Bisa tunggu sebentar, Pak?” ucap lelaki muda itu. Di
dadanya tertulis nama, Surya Kusuma. Tangannya kini tampak sibuk, mengetik
sesuatu di tombol papan aksara komputer di depannya.
Tak lama, Dedi dan Nita sudah berada di depan rumah kecil yang mereka
pesan. Rumah panggung kecil dengan lantai kayu keras dan dingin. Beranda rumah
berisi dua bangku penerima tamu dan meja kecil. Ada satu tempat tidur leyeh-leyeh, diletakkan pada ujung
beranda.
Surya hanya mengantar mereka sampai beranda. Memberikan kunci, setelah
membantu membuka pintu utama menuju bagian dalam rumah. Ruang utama merupakan
sofa penerima tamu. Dindingnya dipenuhi berbagai foto mengenai badak. Ada
lemari kaca setinggi pinggang, isinya cula badak yang dilapisi ukiran perak.
Setelah ruang utama, dengan hanya berbatas meja dan televisi, tampak tempat
tidur ukuran dobel memenuhinya. Meja televisi dibuat bisa memutar ke arah yang
disuka. Bisa menghadap ruang utama, atau diputar agar bisa dinikmati dari atas
tempat tidur.
Kamar mandi terletak di satu ruang tertutup di seberang tempat tidur. Di dalamnya
ada pancuran gantung. Di samping kamar mandi ada sederet peralatan memasak.
Kompor dan gas sudah terpasang. Di atas lemari kecil ada sebuah kulkas kecil.
Kulkas berisi berbagai minuman. Dedi segera mengambil sekaleng susu dingin di dalam
kulkas.
Sebentar saja Nita sudah rebah di atas tempat tidur. Tampaknya ia segan
mengganti bajunya. Suhu memang cukup sejuk, bahkan cenderung dingin. Dedi
memilih menyalakan televisi dan melihat berita terakhir.
Tiba-tiba ada satu berita yang menarik perhatiannya. Isinya mengenai
perjalanan seekor badak, dari Amerika Serikat menuju Indonesia, dan kemudian
dibawa ke Way Kambas. Rencananya badak tersebut akan tiba di Way Kambas, lusa
mendatang.
Badak itu sendiri adalah hasil teknologi kloning. Kali ini para ilmuwan
berhasil menemukan cara baru untuk menjaga satwa dari kepunahan. Salah satunya
dengan mengkloning satwa-satwa tersebut sehingga kemungkinan mengalami kepunahan
menjadi amat kecil.
Badak kloning itu kemudian dibawa kembali ke tempat asal ibu dan bapaknya,
di tanah Sumatera. Selain juga melanjutkan hasil penelitian, apakah satwa
kloning itu bisa juga berkembang di alam liar. Rencananya, badak kloning ini
akan coba dikawinkan dengan badak betina, asli dari Way Kambas. Apabila
berhasil melahirkan, berarti bidang teknologi kloning dan pelestarian satwa
akan menuju suatu langkah baru.
Suara dengkuran Nita membuat Dedi tersadar dari pikirannya tadi. Ia segera
beranjak mandi, dan memutuskan ikut cepat tidur bersama Nita.
Mereka baru bangun agak menjelang siang. Suara ramai satwa terdengar di luar
rumah. Belum lama sadar, tiba-tiba berdering suara telepon. Nita yang
mengangkat dengan nada malas. Ia kemudian membangunkan Dedi, apabila ingin memesan
makanan atau minuman.
Dedi hanya menyebutkan memesan kopi panas, kemudian dilanjutkan Nita yang
memesan nasi goreng udang untuk mereka berdua.
Makanan datang usai Nita mandi. Tak berapa lama Dedi datang menyusul untuk
turut menikmati makan pagi. Mungkin karena perut lapar, rasa kantuk yang
sebelumnya mendera seolah menjadi terkalahkan.
“Hari ini tak ada perubahan rencana kan?
Tetap ingin putar-putar lihat pagar yang katanya penuh dengan listrik itu kan?” tanya Dedi sambil mengunyah.
“Aku sebenarnya ingin melihat badak diberi makan. Tapi karena kita bangun
kesiangan, jadinya waktu sarapan badak sudah lewat. Berarti kita cuma bisa
lihat badak dikasih makan waktu sore nanti. Sepanjang siang ini, memang lebih
baik melihat-lihat sekitar, sekalian adaptasi,” suara ceriwis Nita tiba-tiba
memenuhi suasana pagi itu.
Dedi tampak sibuk memencet-mencet telepon genggamnya. Ia tampak memeriksa
pesan yang masuk sejak malam tadi. Beberapa di antaranya menjelaskan kalau
mobil untuk berkeliling Way Kambas bisa segera disiapkan setelah mereka
sarapan. Bahkan, mereka ditawari kemungkinan berkeliling lokasi kawasan dengan menaiki
punggung gajah.
“Apa kamu mau mencoba berkeliling naik gajah?” tanya Dedi.
“Menarik,” ucap Nita. Ia tetap melanjutkan membaca koran elektronik di tangannya.
“Setengah hari berkeliling sama
gajah, setengah hari sama mobil.”
Tak banyak membantah, karena setuju juga, Dedi segera memberi pesan singkat
ke pemilik mobil. Kalau ia baru akan memakai mobil setelah makan siang. Lalu ia
juga memesan seekor gajah untuk menemani mereka berkeliling Way Kambas.
“Lihat berita hari ini. Akan ada seekor badak dari Amerika Serikat mau
datang ke Way Kambas,” tiba-tiba suara Nita memekik. Nasi goreng di mulutnya
hampir berhamburan.
“Iya, tapi biasa aja dong,” ucap Dedi. Pikirnya, ia sudah
dengar berita itu semalam.
“Yaa, tapi dia baru datang Senin
nanti. Kita pulang hari Minggu, berarti nggak
bakal sempat lihat dia datang di sini,” lanjut Nita. Matanya tak lepas
memperhatikan koran elektronik itu terus.
“Apa ingin lanjut menginap sampai Senin saja? Pengin juga lihat badak itu waktu datang ke sini,” ujar Dedi.
Matanya melihat-lihat ke sekeliling. Rambutnya masih acak-acakan.
“Aku masih banyak kerjaan Senin besok. Tapi akan kupertimbangkan masak-masak,” kata Nita lagi. “Mana gajah itu? Katanya mau mengantar kita keliling?” ucap Nita sambil mulai berdiri. Ia kemudian berjalan ke dalam rumah dan mandi.
Naik di atas punggung gajah pada dasarnya memang mengundang rasa nikmat.
Meski agak berguncang-guncang sedikit. Tapi duduk di papan datar seperti tandu
yang dipasang di punggung gajah, masih lebih enak ketimbang tanpa alat itu.
Dulu, Dedi pernah mencoba duduk di atas gajah tanpa papan yang dipasang di punggungnya.
Rencananya akan mengikuti lima hari patroli gajah di hutan Sumatera. Baru lima
jam, pada hari pertama, Dedi segera mengundurkan diri. Pinggangnya terasa ngilu
bukan kepalang, karena bagian punuk gajah membuat pinggangnya terus bergoyang
selama ia duduk di atasnya.
Sekarang dengan bidang datar dari kayu di punggung gajah, posisi duduk jadi
bisa lebih enak. Bahkan, sebagai penumpang dirinya bisa bergaya-gaya duduk
dengan kaki diselonjorkan. Sekali-kali juga bisa bersila, atau bersandar di
pembatas tandu.
Sardi, pawang yang mengendalikan gajah, tampak santai saja menggerakkan
pengait di tangannya. Bentuk pengait seperti tangan pengait palsu milik bajak
laut. Dengan kait tersebut, gajah bisa digerakkan. Bila kait ditusukkan ke
bagian kanan tengkuk, gajah akan belok ke kanan, begitu juga sebaliknya. Bila
ditepuk-tepuk, gajah akan berhenti. Sedangkan tarikan pada telinga, membuat
gajah duduk, agar penumpang bisa naik atau turun dari punggungnya.
Lintasan berkeliling Way Kambas melewati banyak jenis rintangan. Mulanya
santai saja, karena gajah yang kami tumpangi menempuh jalan datar yang berbatu.
Menyusur mengikuti deretan pagar batas daerah hutan konservasi. Pagar batas itu
setinggi dua kali orang dewasa. Dengan tiang-tiang tinggi seperti penyangga
kabel listrik di kota-kota. Tiap-tiap tiang disambung dengan rentetan kabel
sebanyak delapan baris, dari bawah ke atas. Masing-masing penghubung antar-tiang
tersebut merupakan jalinan empat kabel sebesar jari.
Jalan tiba-tiba menurun. Menuju arah suara sungai yang terdengar dari
kejauhan.
“Setelah ini kita akan melintas sungai,” kata Sardi, kepada Dedi.
“Apa kuat gajah ini melintas sungai besar ini?” tanya Dedi sambil
memperhatikan arus sungai yang tampak tenang di depannya.
“Tenang saja Pak, mereka sudah biasa lewat sini. Sudah tahu harus lewat
mana,” kata Sardi.
Nita tampak agak tegang melewati sungai itu. Tangannya berpegang kuat pada pembatas
tandu.
“Apa tak ada jalan lain, nih
Sardi?” tanya Nita kemudian.
“Harus melintas sungai Bu Nita. Pilihan lain kita naik sedikit ke hulu.
Mencari bagian sungai yang lebih kecil. Biar gajah lebih mudah melintas
sungai,” ujar Sardi.
“Bisa lewat yang itu saja nggak?”
suara Nita kemudian menyusul.
Dedi mencolek pundak Sardi, di depannya. Kemudian ia menyarankan agar jalan
yang dilalui seperti yang disarankan istrinya. Sardi tak banyak cakap, selain
membelokkan gajah menyusur hulu sungai. Bukan masalah sulit untuk gajah naik ke
hulu. Meskipun agak mendaki, sepertinya gajah melangkah dengan mudah saja. Tak
ada suara ngos-ngosan juga, seperti
pada manusia kalau menempuh jalan mendaki.
Saat sudah melewati satu kelokan sungai ke hulu, mendadak suasana jadi
kacau. Gajah tiba-tiba melonjak kaget, karena ada badak liar di depan mereka.
Badak setinggi dada orang dewasa itu, tampak bersiap menyerang sekarang. Ia
menjadi waspada karena kegiatannya dipinggir sungai terganggu. Tampaknya badak
itu ingin minum, atau berendam.
Untung Sardi sigap melemparkan petasan, yang memang dibawanya untuk kondisi
darurat seperti itu. Benar saja, suara petasan yang dilemparkan Sardi, sangat
mengagetkan dan membuat badak itu berlari menjauh. Gajah yang semula panik,
kini juga bisa ditenangkan kembali.
“Wah maaf ya, memang kadang banyak binatang kalau lewat pinggir sungai.
Biasanya sih cuma babi hutan doang, baru sekarang saya lihat ada badak liar di sekitar
sini,” papar Sardi.
“Kalau macan dahan ada juga nggak
disini?” tanya Dedi. Matanya sibuk melihat-lihat ke dahan-dahan tinggi yang
kini berada di atas mereka.
“Ada sih pak Dedi, tapi jarang kelihatan,” sambung Sardi.
“Tadi badak juga jarang keliatan, tapi bukan berarti nggak bakal ketemu,”
imbuh Nita, yang masih kelihatan tegang.
Setelah melintas sungai, perjalanan diakhiri dengan sesi menyiapkan dan
memberi makanan gajah. Makanan untuk gajah berbentuk bulat-bulat dan binatang
berukuran relatif besar itu pun tampak lahap memakannya. Seekor gajah kecil,
bahkan meminta langsung kepada Nita, jatah makanan tambahan dengan belalainya.
Sardi kemudian mengantarkan mereka untuk makan siang. Saat makan siang, Mang
Tardi, salah seorang penjaga gajah yang kami kenal tadi, datang dengan maksud
menanyakan sesuatu kepada Dedi dan Nita.
“Apa benar tadi Bapak Dedi dan Ibu Nita bertemu dengan badak liar?”
tanyanya serius.
“Iya, saya juga punya fotonya kalau Mang Tardi mau.”
“Bukan begitu. Saya hanya ingin tahu apakah badak itu adalah badak yang
selama ini kami cari.”
“Oooh…memang ada cerita apa sampai badak itu dicari-cari?” tanya Nita.
“Iya, badak itu sepertinya sedang mengincar salah satu badak yang kami
pelihara di dalam kandang,” jawab Mang Tardi. Keningnya tampak berkerut.
“Wah, mengincar bagaimana Mang Tardi. Apa dia mau balas dendam? Ah, kok
seperti cerita di TV saja.”
“Mungkin Pak Dedi tidak akan percaya apabila saya cerita, tapi memang
seperti itu kenyataannya. Badak itu sepertinya sedang jatuh cinta dengan salah
satu badak peliharaan kami. Tapi karena dia badak liar, dokter Ellis yang
mengurus badak di dalam kandang sejak badak masih kecil, tidak setuju. Dia
sepertinya takut bila badak liar itu akan merusak semua rencana penelitian yang
dia buat,” cerita Mang Tardi.
“Wah bahaya tuh, jatuh cinta dilarang-larang. Bisa pacaran gaya backstreet nanti mereka,” suara Nita
terdegar kemudian sambil terkekeh.
“Dua hari lalu, ada sedikit bagian pagar rusak. Dari jenis kerusakan dan
besarnya, kami mengira kalau pagar itu bukan dirusak maling, melainkan oleh badak
liar itu. Sepertinya dia ingin masuk ke dalam kawasan konservasi demi bertemu
badak perempuan pujaannya itu,” tambah Tardi lagi.
“Makin repot urusan jadinya. Tapi katanya pagar itu kuat sekali, dialiri
listrik pula. Apa masih juga bisa dirusak badak liar?” tanya Dedi.
“Susah juga kalau masalah cinta. Apa saja bisa diterjang,” balas Nita.
“Lalu apa yang kami bisa bantu?,” tanya Dedi.
“Kami hanya ingin mengumpulkan informasi. Nanti foto yang ada di Pak Dedi
juga akan kami minta. Tapi sejauh ini, hanya itu yang bisa dilakukan,” urai
Tardi.
Tak lama kemudian Tardi pergi dari ruang makan. Ia berjalan dengan tergesa.
Sebentar saja, tubuhnya sudah hilang di kejauhan. Tak lama kemudian hidangan
penutup pun datang di hadapan Dedi dan Nita.
“Cerita badak yang merusak pagar itu menarik sekali. Jadi ingin aku menulisnya di blog,” ucap Nita kemudian. “Nanti aku minta juga ya, copy foto yang ada di kameramu.”
Dedi hanya mengangguk. Pikirannya tenggelam kembali dalam lamunan. Pernah
ia melihat seekor tarsius di Manado yang mati merana karena cinta. Tarsius
memang dikenal sebagai satwa yang setia. Satwa kecil di hutan pedalaman
Sulawesi Utara itu terkenal tak pernah berganti pasangan.
Sebelum ia sempat berbicara tentang tarsius kepada Nita, tiba-tiba telepon
genggamnya kembali berbunyi. Suara Sardi kembali terdengar. Kali ini ia sudah
siap kembali di depan ruang makan. Ia tampak datang lengkap dengan mobil yang
akan mengantar kami berkeliling lagi.
Udara mulai terasa panas, karena matahari yang menyengat. Bagian atap mobil
yang dibiarkan terbuka, membuat panas itu makin menjadi-jadi. Awalnya terasa
nikmat, duduk-duduk di mobil tanpa atap itu. Semua pemandangan dapat terlihat
jelas, dan posisi duduk juga bisa leluasa. Tapi lama-kelamaan, panas membuat
Dedi dan Nita harus beringsut mencari posisi yang aman agar bisa menghindar
dari kejaran sinar matahari.
Dedi tak henti-hentinya mengambil gambar melalui kameranya. Hampir semua
panorama, detail-detail tumbuhan dan satwa-satwa yang berkeliaran, berhasil
difoto olehnya. Sementara Sardi, sibuk berceloteh mengenai apa saja yang ia
ketahui dari perjalanan itu.
Pernah satu waktu lewat seekor burung rangkong di atas kendaraan mereka.
Dengan sigap, Sardi menghentikan kendaraan dan Dedi meloncat keluar. Setelah
mengambil gambar dengan tergesa-gesa, Dedi kembali lagi ke mobil.
“Sardi, burung rangkong seperti itu paruhnya banyak yang mau beli, lho,” ucap Dedi.
Sardi menatap, kemudian berkata, “Kabarnya begitu Pak Dedi. Saya juga
sempat ditawari, apabila menemukan bangkai rangkong di daerah sini.”
“Memang bisa laku berapa?” tanya Nita.
“Saya tak berani menjualnya. Takut ditangkap,” jawab Sardi.
“Bagus seperti itu. Lebih baik memang didiamkan saja. Bayangkan kalau kita
yang dijual-jual seperti itu. Pasti kita juga tak mau,” imbuh Dedi lagi.
Saat sedang asyik bercengkrama, dari kejauhan terdengar bunyi berdebum, bergedukan. Seperti suara tumbang
pepohonan, yang makin lama makin terasa dekat. Sebelum mereka semua sempat menyadari
kondisi, tiba-tiba seekor badak keluar dari rerimbunan pepohonan. Itu badak
yang tadi pagi mereka temui. Kali ini dia datang dengan tampang lebih beringas.
Ia datang sambil berlari dan tampak berniat menyerang.
Sontak Dedi dan Sardi yang masih berada di luar mobil, lari serabutan
menuju batas hutan di pinggir jalan. Nita yang masih berada di dalam mobil tak
sempat bergerak keluar. Sialnya, badak itu memang mengincar mobil dan ia
menabrakkan dirinya pada mobil itu. Berulang kali membuat Nita yang masih
berada di dalamnya hanya bisa berteriak dan berpegangan sebisanya.
Sardi memberanikan diri keluar dari hutan dan mengalihkan perhatian badak
dari mobil. Sayangnya, ia lupa membawa petasan seperti sebelumnya. Melihat
Sardi di kejauhan, badak berlari menyerangnya. Tapi tak lama, badak itu kembali
lagi ke mobil. Kali ini dia lebih beringas menyerang mobil. Sepertinya badak
itu ingin melampiaskan balas dendamnya. Puas menyerang mobil, badak itu
kemudian pergi begitu saja.
Untungnya Nita yang masih berada di dalam mobil selamat tanpa luka apa pun.
Namun, ia sangat syok, dan tak banyak berbicara. Sampai kemudian tim penyelamat
datang, Nita masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Baru menjelang malam,
Nita dan Dedi bergegas menuju kota. Dengan diantarkan petugas di Way Kambas,
mereka berniat memeriksakan kesehatan diri di kota.
Usai mendapatkan pemeriksaan dan konsultasi dari dokter, Dedi dan Nita
memutuskan segera kembali ke rumah mereka di Jakarta. Niat meneruskan menginap
digagalkan begitu saja. Dalam gelap malam, saat melintas Selat Sunda, Nita
akhirnya mengucapkan sepatah kata.
“Ded, kamu jangan beringas seperti badak itu ya, biar bagaimanapun kondisi
yang aku terima.”
Jakarta, 24 Februari 2012
Komentar
Posting Komentar